Sang Mu'adzin dan Sipemilik Mata Indah


"Kita sudah dekat, hanya kita belum saling menyadari." Ucap pria mata indah itu. Belum sempat aku menjawab dia sudah menghilang bersama sinar yang menyilaukan. Aku menutupi mataku dengan telapak tanganku.
"Uh, sinar apa ini?" Gerutuku setengah sadar.
"Sinar berlian. Hahahaha" Jawab Ririn dengan tawa terbahak-bahak sambil membuka gordhen.
"Mentang-mentang lagi gak sholat jadi bangun siang." Ucapnya lagi menghampiriku dengan duduk diatas tempat tidurku. Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ternyata aku bermimpi lagi. Si pemilik mata indah itu hadir lagi semakin misterius.
"Ra, aku mau curhat nih."
"Curhat apa?" Tanyaku
"Salah gak sih kalau aku jatuh cinta?"
"Salah" Jawabku singkat.
"Kenapa?" Tanyanya penasaran.
"Kuliah aja belum bener udah cinta-cintaan. Daripada jatuh cinta mending bangun cinta. Jatuh itu sakit, bangun itu bangkit. Lagian bukannya kamu udah punya pacar?" Tuturku panjang lebar.
"Yaelah, cinta datang tanpa direncanakan. Aku juga udah putus sama pacar aku." Jawabnya enteng.
"Cinta apa nafsu? Seharusnya jika kamu yakin itu cinta, curhat sama Alloh bukan sama aku. kamu kan tahu yang Maha membolak-balikkan hati itu Alloh. Kalau kamu bisa jaga perasaan itu sampai kamu halal untuknya itulah cinta. Kenapa malah curhat sama aku? Memangnya aku bisa membuat kamu berjodoh dengannya."Jawabku lagi panjang lebar. Dia meraba keningku.
"Gak panas, masih pagi, belum mandi, tapi udah bijak banget sahabat aku yang satu ini." Ucapnya sambil cengengesan.
"Memangnya kamu lagi jatuh cinta sama siapa?" Tanyaku penasaran.
"Katanya curhatnya sama Alloh aja, kok kepo?" Ledeknya.
"Yaelah, siapa suruh tadi bilang mau curhat. Jadi penasaranlah." Kataku membela diri.
"Aku suka sama Davin." Jawabnya malu-malu. Aku terkekeh mendengarnya. Davin adalah sahabatku sejak kecil, dia juga pria yang paling dekat denganku setelah ayah. Davin memang pria yang cukup tampan. Dengan tinggi badan dan bentuk tubuh layaknya seorang atlet, putih,mancung, supel, dan cerdas, tak heran banyak kaum wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Bahkan tak sedikit yang memintaku untuk mencomblangkannya.
***
"Zahra!" Panggil seaeorang. Aku celingukan mencari asal suara itu.
"Hai Ra!" Seru Davin mengahampiriku sambil menepuk punggungku.
"Hai Vin!" Jawabku.
"Yaelah... Makin rajin aja baca novelnya. Terus kapan dong aku bisa baca novel karya kamu?" Ucapnya sambil mengambil novel yang sejak tadi kupegang. Aku hanya tersenyum dan tak sengaja menatap matanya. Matanya tampak berbinar dan ada hal lain yang kulihat dimatanya hingga membuatku merasakan perasaan aneh yang tak kumengerti. Mata itu? Bathinku. Astaghfirulloh. Aku mengusap wajahku sambil beristighfar.
"Kenapa Ra?" Tanya Davin sambil memiringkan kepalanya hingga wajahnya dekat dengan wajahku. Aku memalingkan wajahku. Tak ingin terbawa suasana aku pamit pulang duluan padanya. Dia hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Tak sempat Ia menjawab aku sudah berlalu dari hadapannya. Ketika jarakku sudah jauh darinya, air mataku mengalir deras. Perasaan macam apa ini? Bathinku.
***
Sesampainya dihalaman kontrakanku, aku melihat sesosok pria yang sudah tak asing lagi bagiku. Dia menyunggingkan senyum yang membuatku tak bisa menahan kakiku untuk berlari menghampirinya.
"Ayah!" Seruku sambil mencium tangannya dan memeluknya. Air mata bahagia dan terharu tak dapat ditahan lagi diantara kami. Aku mengajak ayah masuk dan membawakan barang bawaannya. Sudah lama kami tak betjumpa. Jarak yang cukup jauh membuat kami sulit untuk bertemu. Ayah yang semakin tua dan pekerjaanku yang tak bisa kutinggalkan. Setelah berbasa-basi Ayah mengubah posisi duduknya dan memasang wajah serius.
"Nak, sebenarnya ada suatu hal yang ingin ayah bicarakan padamu." Ucapnya mengawali pembicaraan. Aku hanya menunduk menunggu Ayah melanjutkan ucapannya.
"Nak, usiamu sudah cukup dewasa sekarang. Jangan mentang-mentang kamu putri bungsu, kamu jadi tak terlalu memedulikan pernikahan. Jika kamu belum punya pilihan, Ayah bermaksud menjodohkanmu dengan anak sahabat Ayah." Lanjutnya hati-hati. Aku menatap mata Ayah sejenak lalu menunduk kembali.
"Tidak perlu dijawab sekarang sayang, kamu bisa pikirkan lagi permintaan ayah ini matang-matang. Ayah tahu kamu sudah dewasa dan ayah percaya kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik untukmu." Tuturnya lagi penuh kelembutan. Ayah, aku tahu meski kau tak memaksaku untuk menerima permintaanmu tapi sorot matamu sangat berharap putri bungsumu ini menerima permintaanmu. Ah Ayah, sorot matamu itu yang membuatku selalu tak mampu untuk menolak permintaanmu. Bathinku.


*bersambung...


*referensi gambar dari google 

0 komentar:

Posting Komentar